Thursday, October 13, 2011

PENGENDALIAN BABI HUTAN
(Sus spp.)

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
     Fillum : Chordata
          Kelas : Mamalia
               Ordo : Artiodactyla
                    Famili : Suidae
                          Genus : Sus, Babyrousa
                                 Spesies : sus scrofa, Sus verrucosus, Sus barbatus, 
                                               Babyrousa babyrousa
Ciri khas dari ordo ini adalah :
  • Kakinya bertelapak genap (dua atau empat)
  • Babi hutan mempunyai tinggi ± 700 mm, panjang tubuh 1000 s/d 1500 mm, panjang ekor 200-300 mm dengan bobot tubuh antara 50-100 kg
  • Moncongnya yang pendek dan berotot berakhir dengan bulatan untuk membongkar (tanah) disokong oleh tulang rawan dan merupakan tempat dua lubang hidungnya
  • Gigi taring bawah amat besar dan panjang pada babi jantan
  • Kaki depan biasanya lebih pendek daripada kaki belakang
  • Rambut surainya pendek dan kasar berwarna hitam mulai dari tengkuk sampai punggung, dalam keadaan takut rambut surai ini dapat berdiri tegak

Pengendalian
 
1.      Pengendalian bahan kimia
Bahan kima adalah bentuk umpan beracun atau ada juga berupa cairan bahan kimia repelen. Berdasarkan pengalaman umpan yang disukai babi hutan adalah ubi kayu, ubi jalar, nangka bubur, bangkai dan lain-lain. Umpan diletakkan pada jalan yang sering dilalui oleh babi hutan dan juga pada tempat-tempat babi hutan sering berkeliaran.
Sebaiknya dilakukan pengumpanan pendahuluan (Pre-baiting) dengan maksud agar babi hutan terbiasa dengan makan umpan yang digunakan sebelum dicampur dengan pestisida selama 3-5 hari, untuk memastikan bahwa babi senang makan di tempat yang disediakan. Sekaligus untuk menentukan banyaknya umpan beracun yang akan dipasang berdasarkan banyaknya umpan yang dimakan babi. Racun Temik 10 G dengan dosis antara 1-1.5 sendok teh dimasukkan ke dalam potongan ubi kayu dengan membuat lubang lebih dahulu. Lubang ditutup kembali dengan rapih agar tidak tercium bau racun. Umpan diletakkan per kelompok, sekitar 10-15 potong ubi kayu beracun/kelompok, diletakkan di tempat bekas umpan pendahuluan tadi, biasanya di sekitar jalur jalan babi dan sekitar kubangan. Sebaran lokasi umpan disesuaikan dengan perkiraan populasi kelompok babi hutan di daerah tersebut. Jarak pemasangan umpan antara masing-masing kelompok 50-100 m.
2.      Jerat kawat
Jerat kawat terdiri dari kawat, alat semacam ini biasanya dibuat oleh petani transmigran asal Bali. Untuk memikat babi disiapkan umpan yang dipasang berhubungan dengan picu jerat. Apabila babi hutan makan umpan tersebut maka picu jerat tergerak sehingga babi pun terikat jerat.
Dengan cara ini hasilnya cukup baik. Selain itu babi yang terjerat dapat dikonsumsi (bagi yang non muslim), dan tidak berdampak negatif bagi lingkungan dibandingkan dengan peracunan.

3.      Jerat/jaring lapon (bronjong)
Alat ini terbuat dari kawat baja berbentuk spiral, dapat diproduksi secara massal. Alat ini mudah dibawa dan juga mudah dioprasikan karena berupa lilitan spiral. Akan tetapi apabila telah terjerat maka badan babi seluruhnya akan masuk jerat. Moncong dan kaki terkait kawat jerat sehingga tidak dapat lolos atau bergerak. Pemasangan lapon harus di jalur jalan babi yang telah diketahui berdasarkan pengintaian.
Pada waktu populasi tinggi biasanya pemasangan lapon dilakukan di hutan sekitar babi bersembunyi. Banyaknya lapon diperlukan antara 20-50 buah. Perlengkapan lainnya adalah parang, tombak dan anjing pemburu. Regu berburu sedikitnya 10 orang terdiri dari : perencana (2 orang) yang menentukan lokasi berburu biasanya 40-100 m dari lahan garapan ke arah hutan. Pemasang lapon (4 orang) bersama dengan perencana membawa, memasang lapon. Apabila selesai pemasangan memberi isyarat dengan bersama kelompok penggiring (4 orang) menggiring babi dengan peluit dan kentongan ke arah lapon. Lapon baru sebaiknya dihujan-panaskan agar bau kawat tidak tercium babi. Pemasangan lapon di tengah areal bersemak menghadap ke sarng babi. Jarak antar lapon sekitar 5 cm dengan tali diikat kuat ke pohon atau semak. Bagian belakang lapon/ moncong agak ditarik ke belakang sedikit sehingga tingginya sekitar 30 cm dari permukaan tanah. bagian depan disamarkan dengan rerumputan. Lapon dipasang 2 baris, dengan jarak antara baris depan dan belakang 2 meter.



4.      Pemagaran
Pemagaran dimaksudkan untuk pencegahan serangan babi hutan dengan menggunakan tanaman bambu, pohon berduri ataupun pagar yang terbuat dari kayu.
Untuk pagar dari kayu biasanya digunakan kayu gelam yang banyak tumbuh di daerah rawa. Balok berdiameter 8-10 cm dipancangkan ke tanah dengan tinggi 1.5 meter. Jarak di antara tiang pancang sekitar 2 meter. Balok yang dipasang melintang berjarak 25-30 cm pada tiang pancang. Pagar tersebut cukup kuat untuk menahan masuknya babi ke lahan garapan.
Pertimbangan pembuatan pagar adalah terhadap biaya yang akan dikeluarkan dengan jenis tanaman yang akan diselamatkan. Pembuatan pagar seperti di atas terjangkau oleh petani. Meskipun demikian petani dapat menggunakan tanaman sejenis bambu berduri dan bambu haur (Bambosa bambu) sebagai pagar hidup yang ditanam rapat. Jenis pohon semak berduri yaitu secang (Caesalpinia sapan) dapat pula dimanfaatkan untuk pagar secara bertahap, selain kuat zat durinya bias membentuk infeksi.

5.      Lubang perangkap
Lubang perangkap terdiri dari parit yang dibuat pada jalur jalan babi, atau pada lahan yang sengaja dibuat celah dengan lubang perangkap. Panjang parit antara 1-2 meter, lebar 0.75-1 meter. Di atas parit disamarkan dengan menutupi parit dengan anyaman bambu atau dahan dan ranting kayu. Kemudian ditutup oleh timbunan daun atau rumput. Namun cara pembuatan lubang perangkap dianggap kurang efektif dalam menjebak babi hutan.

6.      Tombak beracun
Berburu babi dengan menggunakan tombak yang telah diolesi oleh racun yang dibuat dari tumbuhan-tumbuhan yang mengandung zat racun. Perburuan ini dilakukan oleh regu berburu sedikitnya 10 orang.



7.      Jaring babi
Alat ini terbuat dari tali plastik yang dirancang khusus untuk menangkap babi. Babi buruan yang digiring melalui jerat akan mudah tertangkap karena tidak musah bebas bergerak. Satu bentangan jaring menangkap satu ekor babi.

8.      Alat pancing babi
Alat pancing ini terbuat dari pancing ikan laut. Tapi pancing sepanjang 25-30 cm dari tali pancing yang kuat, pada ujungnya diikatkan di tengah tongkat kayu/bambu sepanjang 15-20 cm. Pancing diberi umpan yang menarik babi hutan. Apabila umpan dimakan, mata pancing akan tersangkut di bibir babi. Usaha babi untuk mengeluarkan pancing dengan menginjak tongkat sehingga tali akan terselip di antara jari kaki depannya. Akibatnya makin kuat injakan maka pancing akan masuk bibir babi lebih dalam lagi. Untuk itu babi tidak dapat bergerak karena pancing menusuk bibir sementara tali/tongkat terselip kuat di sela jarinya.

9.      Pengerahan penembak mahir
Di perkebunan kelapa sawit Marihat Sumut ternyata seorang penembak mahir, mampu menembak 4 ekor babi setiap kali berburu. Cara ini dianggap paling efektif di kebun tersebut.

10.  Pengusiran babi
Alat ini berupa bunyi-bunyian terbuat dari kaleng bekas atau ruas bambu. Alat ini dibunyikan dengan menarik tali pengaitnya apabila diduga ada  babi merambah kebun. Alat ini ditempatkan di tengah dan pojok kebun. Alat lainnya adalah dengan menggunakan lemak babi yang dioleskan pada rafia yang dibentangkan ke sekeliling kebun. Pemanfaatan rambut manusia, ijuk atau jengkol yang dipotong-potong, kemudian dicampur dedak dan disebarkan di sekeliling kebun atau jalur jalan babi. Cara-cara ini masih tradisional namun dipercaya akan khasiatnya oleh masyarakat awam.



11.  Sistem parit berpagar
Sistem ini sudah diterapkan pada kebun kelapa hibrida di Bone-bone Kabupaten Luwu, Sulsel sejak tahun1978. sistem ini yaitu dengan membuat parit berlapis pagar di sekeliling kebun. Dengan sistem ini kebun kelapa hibrida seluas 2 ha yang waktu itu masih dikelilingi hutan terhindar dari serangan babi hutan. Sistem ini dibuat dengan memperhitungkan morfologi babi hutan yaitu sepasang kaki depannya lebih pendek dari kaki belakangnya sehingga selalu menghindari medan yang terjal pada saat berjalan menurun, bahkan dengan pengejaran menuruni lereng lebih mudah ditangkap. Sistem parit berpagar ini terdiri dari bentengan pagar keliling galian parit di dalam pagar dengan tanah galian parit dibuat berbentuk pematang pada sisi sebelah dalam. Bahan untuk pagar diperoleh dari kayu di sekitar lokasi kebun atau bekas tebangan hutan pada waktu pembukaan kebun. Bagi perkebunan besar dapat menggunakan bentengan kawat berduri. Parit sekaligus dapat berfungsi sebagai saluran drainase dan batas kebun yang permanent.

No comments:

Post a Comment

produk saya

produk saya
lilin aroma teraphy berbahan aktif akar wangi